Pelajaran Mandarin kadang-kadang jadi bahan celotehan anak-anak. Kadang lebih sadis lagi suka diplesetin jadi arti bahasa Inggris. Ini kenapa sih bocah-bocah? Lagi mabok genjer ya?
“Wŏmen (kami) itu berfungsi sebagai Subyek atau kata ganti seseorang. Selain wŏmen ada apa lagi ayo?” tanya gw sama anak-anak sambil nenteng-nenteng spidol.
“Nĭmen (kalian)” samber yang lain
“Ya betul, lainnya?”
“Tāmen (mereka)”
“Betul, jadi wŏmen (kami), nĭmen (kalian), tāmen (mereka), wŏ (saya), nĭ (kami), tā (dia) itu semua adalah kata ganti seseorang atau biasa disebut subyek dalam sebuah kalimat. Kalo ani, budi, xiaoling, xiao qiang, bisa ga jadi sebuah subyek” tanya gw lagi sama anak-anak. Aduh jelasin grammar harus jelasin secara sejelas-jelasnya. Secara grammar Indonesia aja mereka belum dapet yang maksimal, ini malah udah harus belajar grammar bahasa China.
“Bisa shī” kata yang lain.
“Shī emang wŏmen artinya apa?” tanya murid lain yang paling belakang.
“Artinya kami” jawab gw polos.
“Salah tau shī, wŏmen kan artinya wanita hehehe” canda murid gw tadi.
“Wkwkwk… wkwkwk…” ketawa murid gw lainnya sekelas.
“Itu mah bahasa Inggrisnya tau…” kata gw keki.
***
Situasi lainnya lagi dengan celotehan anak-anak murid lainnya.
Pagi-pagi ketika gw nongol di kelas buat ngajar.
“Qĭlì (berdiri)” kata ketua kelas pas lihat gw dateng ke kelas mereka.
“Cabe…” samber murid lainnya yang bukan ketua kelas. Iseng pengen nambah-nambahin aja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar