Sabtu, 20 Agustus 2011

cerpen 1


Guru Adalah Orang Tua Di Sekolah

Pagi ini sekitar jam  6.15  aku sudah sampai ditempat kerja. Sedikit mengeluh karena baru sampai ditempat kerja harus sudah siap-siap untuk langsung bekerja (mungkin besok harus datang lebih pagi kali ya, biar bisa santai dulu). Dengan ditemani segelas air minum , aku bergegas mencari buku dan peralatan mengajar, sambil melihat  jurnal  guru,  apasaja  yang harus aku lakukan pada pertemuan hari ini.
“ga ngeteh dulu laoshi?” Tanya seorang guru padaku.
“ga bu, aku mah air putih aja cukup” jawabku sambil masih sibuk membolak balik jurnal
“walah kamu ini lucu, padahal ada teh juga tapi ga mau ngeteh. Malah sibuk gitu, lagi ngapain sih memangnya?” jawabnya lagi
“ ini lagi liat jurnal bu, perasaan hari ini aku harus kasih kisi-kisi ke anak-anak, berarti sudah harus foto kopi soal ulangan nih bu. Ya ampunnnnnn….. repotnya. Aku hampir lupa.”
“oh gitu, namanya juga guru. Ya memang repot mengurusi ini dan itu. Semua demi kebaikan anak murid. Ya sudah, tapi ngeteh dulu sana, nanti keburu abis tuh sama pak gito” candanya sambil menoleh ke guru yang ada didepannya.
“hahahahha emangnya aku gentong apa tin bisa ngabisin teh seteko? Kalo segalon tuh he-eh bener hahahaha.” Jawab pak gito sambil tertawa lepas.
“hahahah pak gito ada-ada aja nih. Aku bukannya ga mau ngeteh bu. Aku ga terbiasa ngeteh, jadi minum air putih aja deh” jawabku
“oh gitu, ya sudah kalo gitu, sudah bel tuh laoshi. Bukannya kamu ada kelas pagi kan?” Tanya bu tini ramah.
“oh ya itu udah bel, ya sudah aku ngajar dulu ya bu” sambil melambai tangan kayak sudah mau pulang aja deh xixiixixi.
Masuk kelas, suasana kelas langsung hening. Ini lah yang aku suka jika mengajar pada jam pertama, karena kelas sudah dipastikan hening diawal karena murid-murid wajib berdoa dan mendengarkan bacaan pagi. Setelah selesai berdoa, maka kelas mandarin pun dimulai. Anak-anak mulai serius mencatat latihan kisi-kisi ulangan. Tapi tetap saja ada juga yang sambil bercanda, membuat suasana kelas menjadi berisik tidak karuan. Lalu kuhentakan penghapus papan tulis kepapan tulis, sekejap bunyi-bunyian tersebut membuat murid-murid kaget dan kembali terdiam hening, lalu mereka melanjutkan menulis. Syukurlah kelas ini memang bisa kukendalikan dengan mudah.
Sudah hampir 80 menit aku mengajar, tiba-tiba bel berbunyi. Tanda pelajaran selesai. Murid-murid setelah mendengar bel berbunyi, mereka langsung mengatakan syukurnya dengan mengatakan “yesss….. abis”. O..walah….anak-anak ini, .seperti aku siksa aja, sampai berucap seperti itu, tapi biarlah, namanya anak-anak. Setelah aku selesai membereskan peralatan ngajarku, murid-murid memberiku salam.
“qi li (berdiri), Xingli (beri hormat)” ucap ketua kelas dengan lantang.
“xie-xie laoshi (terima kasih guru), laoshi zaijian (guru sampai jumpa)” serentak suara murid-murid memberi salam.
“zai jia (sampai jumpa)” jawabku sambil berjalan kembali kehabitat asalku (kantor guru).
Dikantor suara gemuruh candaan terdengar hingga keluar, maklumlah kantor guru sedang tidak tertutup rapat. Aku jadi penasaran guru-guru didalam sedang bercanda apa sih, kok sampai heboh gitu. Maka bergegaslah kulangkah kan kaki secepat mungkin menuju kantor guru. Begitu sesampainya dikantor, ternyata mereka sedang bercerita dan bercanda sambil dapat pembagian makanan (persis kayak dipenampungan meletusnya gunung merapi huehehhehe), semua guru heboh dapat makanan pesanannya mereka yang dipesan melalui cleaning service yang siap sedia melayani kami. Seru sekali.
“ini laoshi pesanan makanannya” kata pak herman, salah satu cleaning service disekolah ini sambil menyodorkan nasi bungkusku.
“waduh pak, terima kasih. Berkat bapak saya jadi bisa makan” kataku
“akh laoshi bisa aja” jawabnya singkat sambil tersenyum
Setelah mendapatkan makan, mulai deh sekarang aku yang makan sambil heboh bercerita tentang kejadian yang ada dikelas tadi pada para guru-guru. Mereka mengkomentari ceritaku seheboh aku bercerita, ya ampun… seru amat hari ini pikirku. Bisa makan sambil berbelepotan cerita ria. Hari ini menyenangkan (seruku dalam hati).
Sambil sibuk menunggu jam berikutnya mengajar, kusibukan diri dengan mengoreksi. Ga terasa jam sudah menunjukan pukul 11.30 siang, berarti aku harus bergegas masuk kekelas berikutnya. Kelas siang ini, kadang membuat aku malas mengajar, karena suasana kelasnya yang super duper berisik, rasanya ga sanggup berlama-lama dikelas. 
Begitu masuk kelas, benar saja, mereka sudah menyambutku dengan kebisingan mereka. Ngerumpiin apa gitu, aku juga kurang ngerti. Kutatap wajah mereka satu demi satu untuk memberika efek pada mereka bahwa aku tidak suka mereka berisik seperti itu. Hmmm…. 5 menit kemudian mereka baru sadar kalo sedang dipelototin, akhirnya diam juga.
“hari ini kita ada agenda apa?” jawabku menguji ingatan mereka
“tulis kisi-kisi shi” jawab salah satu anak.
“oke kalo gitu keluarkan buku ps pr kalian, kita akan menulis latihan kisi-kisi ulangan, ditulis soalnya lalu dikerjakan. Boleh liat catatan atau buku cetak” perintahku
“ayiiiiikkkkk….” Jawab mereka serempak.
“ada yang ga bawa buku mandarin hari ini?” tanyaku lagi
“saya shi ga bawa”  kata salah satu murid
“ya ampun….. kan sudah dibilang, jangan lupa bawa. Ya sudah catat diselembar kertas sana, minta sama temanmu. Dan jangan lupa hukuman mu adalah mencatat sambil berdiri didepan kelas” Perintahku.
“ makanya bawa buku dong!” ucap beberapa anak
Setelah itu aku mulai mengisi papan tulis dengan latihan ulangan bagi anak-anak. Anak-anak berisik sekali, mungkin karena sudah siang, konsentrasi mereka mulai buyar. Kuperingatkan mereka untuk tidak berisik dengan menghentakkan penghapus kepapan tulis. Mereka kembali terdiam. Tapi tak bertahan lama. 5 menit kemudian mereka kembali mengobrol ria, membuatku merasa semakin panas diudara Jakarta yang memang panas. Apalagi ruang kelas ini tidak dilengkapi dengan Ac. Makin esmoni eh esmosi deh kalo denger anak-anak berisik. Lalu kembali kuhentakkan penghapus kepapan tulis, namun kali ini dengan lebih keras, mereka malah tak menghiraukan ku. Ya Tuhan baru saja aku berucap menyenangkannya hari ini, sekarang anak-anak sudah membuatku lupa akan kata syukurku yang tadi pagi. Akhirnya aku menghentikan menulis, dengan suara yang lantang kukatakan bahwa suasana kelas yang hening bisa membantu berkonsentrasi mengerjakan latihan ini, dengan begitu diamlah. Tapi tetap saja mereka tidak mengerti. Tenggorokan oh tenggorokan…. Kasian betul nasibmu. Mungkin sebaiknya aku keluar kelas untuk menenangkan otakku yang mulai berceceran karena nahan emosi, baiknya kekantor guru lah, minum seteguk dua teguk air,  mungkin bisa memberikan semangat pada tenggorokan agar bisa menasehati (ngomel) anak-anak, dan kali ini mereka harus ngerti.
Begitu melangkah keluar kelas, dari kelas sebelah kudengar guru sedang menasehati anak-anak. Waduh ada apa itu (kataku dalam hati), kenapa suara guru agama sekencang itu, kenapa dengan anak muridnya bu Christin? (Cuma bisa bertanya-tanya sambil sedikit ngintip kejendela kelasnya. Ya ampun… anak-anak berlutut dengan rapi didalam kelas sana. Ada apa sampai bu christen semarah itu, setau ku dia guru yang baik. Tapi ya sudahlah mungkin besok bisa kutanyakan padanya langsung, sekarang cari air dulu deh. Hi air sayang kemanakah dirimu, ibu tenggorokan memanggil-manggil dirimu.
Sesampainya dikantor, aku sesegera mungkin mengambil gelas dan mengisi penuh dengan air putih. Lalu cepat-cepat meminumnya glek…glek.. glek.. Alhamdulillah tenggorokanku kembali segar. Ketika aku berniat kembali kekelas, bu christin datang dari kelasnya lalu duduk.
“ibu tadi kenapa menghukum anak-anak sekeras itu?” jawabku sambil duduk didepannya
“oh yang tadi laoshi? Itu biasalah anak-anak pada berisik pas doa angelus, harusnya mereka kan duduk dengan tenang ketika berdoa. Jika saya tidak keras kepada mereka, bagaimana mungkin mereka bisa mengerti bahwa yang mereka lakukan itu adalah salah dan tidak benar. Berdoa adalah waktu dimana kita berdiskusi dengan Tuhan, tidak boleh mereka bersikap semaunya seperti dia sedang ngobrol dengan temannya. Sikap yang tidak baik, wajib kita beritahukan kemereka. Saya tidak mau, kelak mereka menjadi masyarakat yang tidak tahu sikap ketika mereka sedang berdoa. Maka dengan itu saya merasa wajib memberi teguran yang keras kepada mereka agar mereka tidak mengulangi sikap yang tidak baik itu. Sikap keras saya peruntukan demi kebaikan mereka, karena saya sayang mereka” jawabnya panjang lebar
“oh… sekarang mereka bagaimana bu?” tanyaku lagi bawel
“sekarang mereka sedang saya suruh berlutut satu kelas hingga pulang, tidak ada pelajaran yang saya akan berikan pada hari ini, hanya mereka akan saya suruh mencatat sebuah bacaan injil, agar mereka bisa baca dengan lantang ketika mereka pulang” jawabnya dengan tegas
“iya laoshi, soalnya kalo ga gitu anak-anak ga bakalan jera, pasti terus menerus melakukan hal yang sama” jawab guru lain
“iya betul.  Saya harap mereka bisa merasakan perih pada lututnya sebagai peringatan, agar mereka selalu mengingat, bahwa ketika kita berdoa, kita sebernarnya sedang berkomunikasi dengan Tuhan, dan kita wajib bersikap baik dan tidak seenaknya. Memejamkan mata, meresapi setiap doa, dan menyadari kehadiran Tuhan ditengah-tengah doa adalah sikap yang baik, yang harus mereka sadari dari sekarang. Biar saya dicap guru galak, tapi demi kebaikan mereka, apapun akan saya lakukan laoshi” ucapnya sambil meneguk air dan kembali kekelas.
Sambil kembali kekelas aku coba mencerna semua ucapan ibu christin, ya ampun…… benar juga kalo disebut guru adalah orang tua disekolah. Mereka akan melakukan apapun demi kebaikan dan kemajuan semua anak-anaknya, walau harus dengan cara tegas dan membiarkan persepsi murid-murid bahkan orang tua wali murid menjadi salah, menyangka guru tegas menjadi guru galak yang ga asyik bagi murid-muridnya. Tapi memang seperti itu kan jika ibu atau ayah kita sedang menasehati atau bahkan memarahi dan menghukum kita. Kita dmarahi atau dihukum karena ibu dan ayah kita sayang pada kita. Bentuk hukuman itulah yang menjadi bentuk kasih sayang semua orang tua pada anaknya, bukan bentuk kebencian orang tua kepada anaknya. Karena hanya orang tua yang perdulilah maka dia akan tega memarahi anaknya demi kelangsungan hidup baik dimasa depan yang diharapkan semua orang tua. Seperti itu lah guru. Memarahi murid bukan karena guru itu benci dengan muridnya, tapi justru Karena dia sayang dan perduli pada anak didiknya disekolah. 
Semoga aku bisa menjadi guru yang seperti itu, tidak perduli dicap guru galak oleh siapapun. Yang pasti aku mau semua anak muridku menyerap semua ilmuku dengan sempurna dan mengerti bahwa aku selalu ingin yang terbaik bagi semua anak muridku. Guru baik kan tidak harus selalu nampak baik dari luar. Banyak juga guru yang Nampak baik dari luar, tapi sebenarnya dia sedang membiarkan anak muridnya terjerumus pada hal yang buruk, misalnya hobi mengobrol pada saat diterangkan pelajaran, tapi guru itu diam saja dan membiarkannya tetap berisik. Huehhehe itu kan namanya guru baik yang jadi-jadian. Alias guru yang kurang baik. Hanya baik dari luar agar disenangi oleh semua murid-murid. Hmmm…. Kalo seperti itu bukan orang tua namanya. Cuma tetangga kali ya, jadi guru kan harus mau dan rela berbawel-bawel ria demi kebaikan anak muridnya. Jadi semangat kembali nih buat ngajar dijam terkahir ini. Ayo sapa yang berisik lagi pada saat mencatat, nanti laoshi marahin ya, hihihihi……